Serang, WartaHukum.com - Air PDAM Tirta Al Bantani di Kragilan kondisinya keruh dan dikeluhkan oleh masyarakat, kondisi keruhnya air PDAM Tirta Al Bantani sangat tidak layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat yang menggunakan air PDAM Tirta Al Bantani.
Air PDAM Tirta Al Bantani yang dikelola oleh UPAM Kragilan PDAM diduga berasal dari saluran irigasi ciujung. Proses air kali (air sungai) diolah oleh PDAM Tirta Al Bantani menjadi air bersih melibatkan beberapa tahapan utama di Instalasi Pengolahan Air (IPA). Air melewati tahap penangkapan awal, penyaringan kotoran (fisika), pembubuhan bahan kimia untuk menggumpalkan lumpur, pengendapan, penyaringan akhir, hingga disinfeksi sebelum akhirnya didistribusikan ke rumah pelanggan.
tahapan lengkap proses pengolahan air kali untuk PDAM:
1. Intake (Penangkapan Air Baku)
Air dari sungai atau kali ditarik dan dialirkan ke bangunan intake. Di tahap awal ini, air disaring menggunakan bar screen (saringan kasar) untuk memisahkan sampah-sampah besar seperti kayu, plastik, dan dedaunan agar tidak masuk ke pompa.
2. Koagulasi
Air yang masih keruh mengandung partikel koloid halus yang tidak bisa mengendap sendiri. Pada tahap ini, bahan kimia seperti tawas (aluminium sulfat) atau PAC ditambahkan ke dalam air. Proses ini dibarengi dengan pengadukan cepat agar bahan kimia menyebar dan mengikat kotoran halus tersebut menjadi gumpalan yang lebih besar.
3. Flokulasi
Setelah melalui koagulasi, air dialirkan ke bak flokulasi. Di sini, air mengalami proses pengadukan lambat yang membuat gumpalan-gumpalan kotoran halus tadi saling bertabrakan dan membentuk gumpalan yang jauh lebih besar dan berat (disebut flok).
4. Sedimentasi
Air yang kini telah memiliki gumpalan kotoran besar dialirkan ke bak sedimentasi (pengendapan). Aliran air akan diperlambat agar flok kotoran yang berat turun ke dasar bak, sementara air yang lebih jernih berada di bagian atas dan siap dialirkan ke proses berikutnya.
5. Filtrasi (Penyaringan)
Proses ini memastikan seluruh sisa kotoran dan lumpur yang belum mengendap pada tahap sedimentasi benar-benar dihilangkan. Air yang jernih akan dilewatkan melalui media penyaring berlapis, seperti pasir silika dan kerikil, sehingga air yang keluar benar-benar bersih dan jernih.
6. Desinfeksi dan Klorinasi
Air yang sudah jernih belum tentu bebas dari bakteri. Untuk membunuh kuman dan mikroorganisme berbahaya, PDAM menambahkan bahan disinfektan (seperti gas klorin atau kaporit) ke dalam air sesuai dengan takaran yang aman.
7. Reservoir (Penampungan)
Air bersih dan steril yang sudah melalui proses disinfeksi ditampung sementara di bak penampungan besar yang disebut reservoir. Dari sinilah air siap dipompa dan didistribusikan ke jaringan pipa air bersih menuju rumah-rumah pelanggan.
Menurut salah satu masyarakat Kampung Pasir Binong yang menggunakan air PDAM untuk kebutuhan sehari-hari mengatakan, air nya keruh pak, kadang-kadang berwarna coklat dan seperti berminyak air nya, ujarnya, Senin (15/6/2026).
"Mau gimana lagi pak kalau gak dari air PDAM kita darimana untuk kebutuhan air sehari-harinya," pungkasnya.
(Red)

Tidak ada komentar:
Tulis komentar